Showing posts with label AUDIO DASAR. Show all posts
Showing posts with label AUDIO DASAR. Show all posts

Thursday, 13 February 2014

AUDIO DASAR No.3: Pengenalan dan penerapan limiter untuk pemula


Pada tutorial sebelumnya, kita telah mengenal Compressor. Nah, pada tutorial kali ini, kita akan mengenal limiter. Limiter juga bisa dibilang merupakan Compressor yang rationya full, sehingga semua audio yang melebihi Treshold akan dipotong. Berbeda dengan Compressor, pada compressor, semua audio yang melebihi Treshold akan dikurangi sesuai perbandingan dengan ratio. Silahkan baca – baca tutorial tentang Compressor terlebih dahulu bila masih bingung dengan Ratio dan Treshold.

Apasih kegunaan Limiter?

Fungsi dari limiter adalah membatasi volume audio. Coba perhatikan Screenshot di atas. Kita memiliki sebuah Limiter. Di sini kita menggunakan limiter miliknya DAW Presonus Studio One. Untuk anda pengguna limiter lain sebetulnya adalah sama saja.

Kembali ke screenshot, kita memiliki audio yang volumenya kurang maksimal. Pasti anda yang berkecipung di bidang recording terutama yang pemula, sering mengalaminya, kenapa kok hasil audio kita kurang maksimal, kecil banget,,, dan lain – lain.

Nah, penggunaan limiter adalah untuk mengatasi hal – hal seperti itu. Kita ketahui bersama bahwa standar volume audio adalah 0db, bila melebihi ini maka audio kita akan clipped. Semua DAW pasti memberikan konfirmasi bila terjadi ‘clip’ pada audio kita.

Pada screenshot, kita mensetting Threshold sesuai dengan standard audio yaitu 0db. Sehinga saat kita akan menaikkan volume audio ini, bila nanti ada bagian yang melebihi Treshold maka akan terpotong/terkompress secara otomatis, sehingga tidak akan terjadi Clip pada audio kita.

Bagian – bagian Limiter:

Setiap limiter memilki bagian – bagian sendiri – sendiri dengan istilah sendiri – sendiri pula. Tetapi bagian yang umum terdapat pada limiter adalah

*Signal Input (untuk mengatur volume sinyal yang masuk)
*Treshold (sebagai ambang batas)
*Release (waktu yang dibutuhkan limiter untuk merelease bila sudah tidak melebihi treshold)

Sebetulnya juga terdapat tambahan – tambahan fungsi lain sesuai dengan Vendor pembuatnya. Pada limiter yang kita gunakan di atas bagian – bagiannya adalah sebagai berikut:
1.Input
Digunakan sebagai pengatur volume input yang masuk.

2.Ceilling

Penyesuaian maximum output dari limiter (mulai dari -12db – 0 db)

3.Tresh
Ambang batas pemotongan.

4.Release
Waktu yang digunakan untuk me-release.

5.Softclip
Digunakan untuk menghaluskan pemotongan

6.Metering
a.PkRMS (nanti kita bahas)
b.K-14, K-20, K-12 (nanti kita bahas)
c.Reduction (nanti kita bahas)
Untuk mengetahui berapa db yang digunakan untuk meng-compress/memotong audio

Nah, mudah bukan, adakah yang kurang jelas???

Cobalah anda berikan limiter pada audio anda, bila dirasa kurang maksimal volumenya, berikah Treshold 0db misalnya, kemudian tarik saja tombol input, perhatikan level meteringnya, dan dengarkan suara audio anda.

Bila mulai pecah suara audionya, sebaiknya turunkan lagi level inputnya. Bila dirasa sudah maksimal volumenya, maka anda bisa menghentikan menaikan tombol input.

Limiter dapat digunakan pada saat mixing, maupun pada saat mastering, tergantung keinginan anda. Dalam perkembangan plugin yang kompleks, limiter ini tidak berdiri sendiri, tetapi juga digabung dengan compressor dan gate.
Tidak hanya “tidak berdiri sendiri”, sekarang limiter ini bisa digunakan untuk me-limit multiband. Masih ingatkah anda dengan multiband???

Yup, yaitu low, mid, high, zaman sekarang banyak kok limiter yang bisa digunakan untuk meng-cut band tertentu, misalnya ingin high band saja yang dilimit dan lain lain.
Lihat gambar 1:


Ozone 5 adalah salah satunya, saya pribadi biasanya suka memakai ozone 5, saya bisa meng-compress setiap band yang dirasa kurang maksimal.

Di atas kita telah menuliskan “bila suara audio pecah maka kita bisa hentikan”, nah, sebetulnya suara audio pecah bisa diakali dengan penggunaan limiter/compressor ini. Cobalah, pasti anda bisa melakukannya dengan multiband limiter ini.
Saya mempunyai contoh audio:

*1_SLUKU BATHOK - Asli dari kaset pita.mp3 – Ini adalah audio asli hasil rekaman dari kaset pita.
*2_SLUKU BATHOK - Pecah saat mastering.mp3 – ini adalah audio hasil mastering yang pecah.
*3_SLUKU BATHOK - Bagus setelah pakai multiband limiter.mp3 – Nah, ini adalah audio hasil limiter dengan multiband limiter ozone5. Sangat mudah sekali, hanya memilih band mana yang perlu di kompress / dilimiter, kemudian kita geser – geser saja sudah berhasil. Ayo coba sendiri.

Lihat gambar 2:


Perlu diketahui bahwa, bila audio anda pecah, *suara pecah ini tidak akan hilang saat anda menurunkan volumenya. Cara satu satunya adalah meng-compress nya dengan compressor atau limiter.

Demikian tutorial tentang limiter bagi pemula, semoga bermanfaat.
Salam.


Wednesday, 29 January 2014

AUDIO DASAR No.2: Mengenal Audio Compressor


Pernahkan anda mendengar tentang ‘Compression’?? Atau mungkin istilah lain seperti ‘Audio Compressor’, ‘Multiband Compressor’?? saya yakin banyak dari editor audio berpengalaman selalu menggunakan fasilitas dan teknik ini.

Audio Compression, sesuai dengan namanya, adalah proses pemampatan audio dimana gain dari audio yang melebihi batas akan di kurangi berdasarkan ukuran tertentu. Compression selalu digunakan baik dalam proses mixing maupun proses mastering sebuah lagu.


Note: Untuk kelancaran tutorial ini saya menggunakan salah satu DAW Fenomenal multi fungsi nan ringan, yaitu Presonus STUDIO One. Anda dapat menggunakan Compressor dari DAW apa pun (Cubase, Nuendo) karena proses nya sama saja.

Nah, kembali ke definisi yang sudah kita sampaikan di atas, bila level gain (volume) dari audio melebihi batas yang kita tentukan (threshold), maka akan dikurangi berdasarkan ukuran tertentu sesuai dengan yang telah kita settingkan pada Ratio.

Gain, bisa disebut juga sebagai level. Karena signal level dari sebuah audio tidak tetap, melainkan naik turun, maka dalam audio enginering disebut sebagai dynamic range.

Nah, di sini kita mengenal beberapa istilah – istilah asing, yaitu gain(volume), dynamic range, threshold(batas audio), dan ratio (perbandingan audio). Yang paling kurang jelas pasti bagian ‘ratio’ :)

Ya, ratio adalah perbandingan, maksudnya adalah perbandingan signal input dengan signal output.

Misalnya seperti pada contoh gambar di atas:
Ratio 2:1, maksudnya bila kita menaikan level dari audio sebesar 2db maka output yang terjadi adalah naik 1db.
Ratio 5:1, maksudnya bila kita menaikan level dari audio sebesar 5db, maka output yang terjadi adalah naik 1db.

Sampai di sini bisa dimengerti kah?

Lalu apa fungsi dari Compressor??

Fungsi utama dari Compressor adalah menyetarakan level dari dynamic range. Sehingga saat kita menaikan volume level maka volume yang besar yang melewati batas threshold bisa dimampatkan/dikompresi sedangkan volume yang masih belum menyentuh batas threshold akan naik normal. Dengan demikian maka kita bisa mendapatkan kualitas audio yang optimal.

Lihat gambar 1:


Saya yakin semua sudah mengerti dan bisa membaca grafik di atas :) tapi pasti ada juga yang belum memahami dalam pembacaan grafiknya. Saya akan mencoba menambah gambar lagi supaya lebih mudah dimengerti.

Lihat gambar 2:


Bisa anda lihat, dengan menggunakan Ratio 2:1, maka saat input kita naikan menjadi 10db, output akan terkompresi menjadi 5db. Ingat, 5db karena pakai ratio 2:1. Coba bayangkan bila menggunakan ratio 1:1, pasti naik 10db juga. :)

Compressor ini bisa berupa hardware , bisa juga berupa software yang biasanya berupa VSTPlugin pada DAW.

Nah, dalam sebuah Compressor yang biasanya berupa VSTPlugins ini , tidak hanya terdapat setingan input, output, ratio dan threshold. Melainkan disempurnakan dengan tambahan fasilitas penting pendukung proses kompresi yaitu ‘knee’, ‘attack’, ‘release/decay’ bahkan sampai ‘high cut’ dan ‘low cut’.

Wah, banyak ya istilahnya...
-Knee ini bisa dibilang kelembutan dalam peng-kompresian. Bila kita berikan knee nya nol (0) maka grafik akan lancip. Bila kita berikan 10 misalnya, maka akan tumpul.
-Attack, merupakan delay sebelum compressor menyerbu signal :) , attack 15ms misalnya, berarti compressor akan mulai melakukan eksekusi terhadap audio setelah 15mili second.
-Release/Decay, merupakan waktu yang diambil saat signal di-release/dilepaskan dari proses kompresi.
-Highcut, digunakan untuk memotong frekuensi high.
-Lowcut, digunakan untuk memotong frekuensi low.

Mudah bukan istilah – istilahnya?

MULTIBAND COMPRESSOR


Ingat, ini adalah tutorial dasar, pada setiap DAW pengembangan compressor ini beragam. Contohnya adalah multiband compressor,
Lihat gambar 3:


Di atas adalah multiband Compressor pada presonus studio one, bila anda menggunakan adobe audition maka anda akan mendapati multiband compressor seperti berikut ini:
Lihat gambar 4:


Saya pribadi biasanya suka dengan Multiband Compressor miliknya izotope ozone 5 yang terinstall di studio one saya, sama seperti multiband compressor bawaan presonus studio one, maupun audition, ozone 5 menyediakan multiband compressor yang tidak kalah canggih.
Lihat gambar 5:


Dengan menggunakan Multiband Compressor ini, maka kita bisa dengan mudah memberikan kompresi pada masing - masing band (low, mid, high) frekuensi tidak hanya kepada single band saja.

Canggih bukan?

Sekarang, silahkan anda praktekan dengan DAW favorit anda, coba – cobalah eksperiment, bila perlu, coba lah satu persatu preset bawaan dari DAW anda, pahami, dengarkan dengan baik, dan ekplorasilah.

Sekian tutorial audio compression pada pertemuan ini, mudah mudahan bermanfaat.
Salam,

Saturday, 28 December 2013

AUDIO DASAR No.1: Mengenal Kabel Audio dan Konektornya


Seorang sound enginer yang baik, tidak hanya harus tahu mengoperasikan Software Audionya, tapi juga harus memahami perlengkapan/peralatan fisik audio seperti kabel, mic dan mixer. Tidak hanya itu saja, juga harus bisa men-setting studionya sedemikian rupa seperti tata letak speaker dan peralatan untuk take vocal.

Pada tutorial ini kita terlebih dahulu akan membahas tentang Kabel Audio yang sering kita gunakan serta bagaimana cara menyambung antar jenis kabel audio tersebut. Akan sangat bermanfaat untuk pembaca yang belum tahu tentang kabel audio.

Gambar di atas adalah hanya konektor kabel audio, bukan kabelnya :)

Kabel audio berbeda dengan kabel listrik, karena kabel audio ini berfungsi untuk meng-hantarkan sinyal-sinyal audio ke komputer/software kita. Jernih tidaknya sinyal audio juga tergantung dari pemilihan, sambungan, dan konfigurasi kabel ini.
Ada dua macam kabel:
1.Single Core
2.Double core

1.Single Core
Kabel jenis ini digunakan untuk ‘unbalanced audio’, apa itu unbalanced audio??? please see http://www.mediacollege.com/audio/balanced/
Bisa dibilang bahwa unbalanced audio adalah sinyal-sinyal audio yang tidak seimbang, banyak noise dan lain sebagainya.
Dengan menggunakan kabel ini untuk 'unbalanced audio' maka kita bisa mendapatkan audio yang optimal.
Gambar 1:

Outer insulation = Karet Kabel
Shield = Serabut
Core = kabel/tembaga
Biasanya untuk kabel jenis seperti ini kita bisa menggunakan core nya sebagai left, sedangkan shield nya sebagai right atau sebaliknya.
Dalam elektronika, core digunakan sebagai +ve dan shield digunakan sebagai –ve ???? luh, apa lagi ini??
ini hanyalah kutup positif dan kutup negatif untuk arus DC.
Positive = positi(ve) = +ve
Negative = negati(ve) = -ve


2.Double Core
Kabel jenis ini digunakan untuk ‘balanced audio’ (lihat penjelasan sebelumnya).
Gambar 2:

Outer insulation = karet kabel
Shield = serabut
Core = kabel/tembaga

Nah, kalo kabel seperti ini core +ve bisa sebagai left, core –ve bisa sebagai right atau sebaliknya sedangkan shield bisa digunakan sebagai ground nya.

Diatas adalah jenis kabelnya, sedangkan untuk konektor kabel audio, terdapat beragam jenis, berikut adalah yang sering kita gunakan:
1.Konektor XLR
2.Konektor jack 6.5 mm, 3.5 mm, 2.5 mm
3.Konektor RCA

Berikut merupakan penjelasan setiap konektor:

1.Konektor XLR
Konektor XLR sering digunakan sebagai colokan untuk kabel mic, dan colokan pada mixer untuk tempat mic.
Gambar 3:

Nah, gambar di atas biasanya kita lihat pada MIC kan? Dan kita bisa lihat pada MIXER kan?? Sebetulnya konektor XLR tidak hanya 3 pin saja, melainkan ada yang 4 pin, 5 pin dan sebagainya. Tetapi secara umum yang sering kita gunakan adalah konektor 3 pin. Setiap pin pasti ada numbernya, coba perhatikan konektor XLR anda yang FEMALE, pasti ada numbernya.
Berikut merupakan penjelasan number dari konektor XLR (3 pin)

Pin 1 = ground = shield
Pin 2 = +ve = (bisa digunakan sebagai left/right)
Pin 3 = -ve = (bisa digunakan sebagai left/right)

Yang lupa tentang +ve dan –ve silahkan lihat penjelasan di atas :)

2.Konektor Jacks 6.5 mm, 3.5 mm, 2.5 mm
Konektor ini biasanya di sebut sebagai ‘Jack’ saja.
Lihat gambar 4:

Nah, kalo gambar di atas sering lihat kan??? Mulai dari jack mixer sampai jack kecil earphone yang sering kita tancapkan di hape :)

Jack ini tergantung ukuran, 6.5mm jack yang sering kita tancapkan di mixer disebut juga dengan 1/4" jack (baca seperempat inchi). Yang 2.5mm biasanya yang kita tancapkan di handphone sebagai konektor ke earphone/headphone.

Jack inipun ada yang mono ada juga yang strereo (lihat gambar di atas). Untuk bagian bagian jack seperti Tip, Ring, Sleeve akan kita bahas pada bagian cara menyambung konektor di bawah artikel ini.

4.Konektor RCA
Konektor ini biasanya digunakan untuk CD-VCD , DVD PLAYER, home stereo, maupun video recorder.
Lihat gambar 5:

Nah, sampai di sini sudah ada gambaran kan tentang konektor dan kabel audio?? Sekarang sebagai seorang sound enginer, kita akan dihadapkan pada permasalahan kecil yang kadang merepotkan juga. Yaitu menyambung kabel antar konektor. Hal ini penting karena di lapangan kita akan sering menjumpai sambung putus kabel karena kurang kesiapan kita menyiapkan kabel – kabel yang dibutuhkan.

Oleh karena ini kita akan membahas juga cara menyambung antar konektor.

A.Menyambung XLR ke Jack 1/4" Mono
Lihat gambar 6:

Kita akan menyambung konektor XLR ke jack 1/4" mono. Bagian bagian Jack mono adalah Tip dan Sleeve. Perhatikan gambar di atas.
Bagian XLR:
*Pin 1 (ground) = warna hitam
*Pin 2 (Left) = warna merah
*Pin 3 (right) = warna biru

Bagian Jack:
*Tip (+ve) = left
*Sleeve (-ve) = Ground , Right

Untuk menyambungkannya, kita gabungkan saja Left ke Tip, Right ke Sleeve, sedangkan ground bisa di hubungkan ke salah satunya, pada gambar ground dihubungkan dengan Right (hitam dengan biru). Lalu bagaimana cara menyambungkannya? Tentu anda dapat menggunakan Solder :)

B.Menyambung XLR ke 1/4” Jack Stereo.
Lihat gambar 7:

Nah, setelah tadi kita membahas sambungan pada Jack Mono, sekarang kita akan membahas tentang Jack Stereo. Perhatikan gambar di atas:
Bagian konektor XLR:
*Pin 1 = Ground = Warna Hitam
*Pin 2 = Left = Warna Merah
*Pin 3 = Right = Warna Biru

Bagian konektor JACK:
*Tip = +ve = sebagai Left
*Ring = -ve = sebagai Right
*Sleeve = Ground

Untuk menyambungkannya, kita dapat menghubungkan pin 1 (ground , hitam) ke sleeve, pin 2 (merah, left) ke tip, dan pin 3 (biru, right) ke sleeve. Untuk menyambungkannya anda dapat menggunakan solder.

C.Menyambung XLR ke 1x RCA.
Lihat gambar 8:

Nah, gambar di atas, kita mencoba menghubungkan XLR ke 1 RCA. Maksud dari 1 RCA ini apa sih?? Maksudnya ya 1 XLR ke 1 RCA :)
Bila kita beli kabelnya kan pasti ada yang 1 konektor jack 1 RCA, ada yang 1 Konektor Jack 2 RCA :)
Yang kita bahas ini adalah yang hanya 1 RCA.
Perhatikan gambar, cara menhubungkannya sama dengan XLR dengan Jack. Bagian RCA pun sama seperti bagian Jack.

D.Menyambung XLR ke 2x RCA.
Lihat gambar 9:

Nah, kalo gambar yang ini kita menghubungkan XLR ke 2 RCA sebagai LEFT dan RIGHT. Perhatikan gambar:
*Pin 1 (ground, hitam) hubungkan paralel ke Sleeve dari masing masing RCA.
*Pin 2 (left, merah) hubungkan ke TIP dari RCA 1.
*Pin 3 (right, biru) hubungkan ke TIP dari RCA 2.
Sekarang tinggal merekatkan dengan solder saja, mudah bukan??

E.Menyambung Stereo Jack ke 2 RCA
Lihat gambar 10:

Gambar di atas adalah cara menyambung konektor JACK dengan konektor RCA. Perhatikan gambar:
*Tip (left, merah) dari Jack dihubungkan ke Tip dari RCA 1
*Ring (right, biru) dari jack dihubungkan ke Tip dari RCA 2
*Sleeve (hitam, ground) dari jack dihubungkan ke Sleeve dari masing masing RCA secara paralel

Mudah bukan??? Demikian penjelasan jenis jenis kabel audio dan cara menyambungnya, mudah mudahan bermanfaat dan jangan lupa bookmark, like, share :)

salam
Referensi: MediaCollege.com